Pulang Kampung dan Belajar Membuat Lemang di Dapur Nenek
Waktu itu akhir Ramadan 2019. Saya pulang kampung ke sebuah desa kecil di pinggiran kota Padang. Rumah nenek masih seperti dulu: halaman berdebu pada sore hari, suara anak ayam bersahutan, dan bau kayu bakar yang familiar. Niat utama adalah untuk mudik dan melepas rindu, tetapi pengalaman yang saya dapat di dapur nenek mengajarkan lebih dari sekadar resep — ia membuka kembali narasi sejarah religius yang tersimpan dalam makanan sederhana: lemang.
Awal: suasana, rasa takut, dan keputusan untuk belajar
Di pagi pertama, nenek sudah menyiapkan bambu panjang dan beras ketan yang telah direndam semalaman. Saya mengamati dari sudut serambi, sedikit canggung. Membuat lemang terlihat mudah di video—baca beberapa resep di ponsel sebelum berangkat—tetapi di dapur nenek, ritualnya berbeda: setiap gerakan penuh makna. Saya ingat berdiri kaku, berpikir, “Bagaimana kalau saya merusaknya?” Nenek hanya tersenyum dan berkata, “Datang saja, pegang bambunya.” Itu titik di mana saya memutuskan untuk turun tangan.
Prosesnya teknis: beras ketan dicampur santan kental, sedikit garam, dimasukkan ke dalam ruas bambu yang sudah dibersihkan, lalu dipanggang miring di atas bara. Namun, yang membuatnya sulit adalah suhu api, waktu balik bambu, dan merasakan kapan santan mulai mengental—kepekaan yang hanya diasah lewat pengalaman. Saya membakar dua bambu penuh sebelum nenek menghentikan saya. Aroma gosong membuat saya kesal; nenek tertawa, lalu mengajarkan teknik sederhana namun esensial: “Api perlu sabar, bukan panas yang ganas.”
Konflik dan sejarah yang muncul di antara uap santan
Saat kami memasak, obrolan mengalir. Nenek bercerita bahwa lemang bukan sekadar makanan perayaan; ia bagian dari ritus agraris masyarakat Melayu yang jauh lebih tua dari agama yang mereka anut sekarang. Saya terkejut. Dalam kepala saya, lemang selalu identik dengan Hari Raya Idul Fitri, tetapi nenek menjelaskan bagaimana pembuatan lemang awalnya terkait dengan syukur panen—upacara yang merayakan keselamatan dan kelimpahan beras.
Ada lapisan sejarah religius yang menarik: ketika Islam datang dan menemui kebudayaan lokal di Nusantara, praktik-praktik lama tak langsung hilang. Mereka berubah fungsi dan makna. Lemang yang dulu dipersembahkan dalam upacara padi kini hadir di meja saat Lebaran, menjadi tanda bersyukur setelah sebulan berpuasa. Perpaduan ini bukan kehilangan, melainkan adaptasi—sebuah bukti bahwa ritual agama sering menyerap tradisi lokal untuk membentuk praktik yang lebih bertahan lama.
Proses pembelajaran: teknik, kesabaran, dan dialog antar generasi
Saya masih ingat detail kecilnya: bagaimana nenek mengoleskan daun pisang basah pada mulut bambu untuk menahan uap, bagaimana ia mengukur santan dengan sendok kayu yang sudah lekang oleh waktu, bagaimana ia menepuk bambu untuk memastikan ketan matang merata. Saya belajar juga memegang bara: memiringkan bambu sedikit, memutar perlahan, mendengarkan bunyi dalam bambu. Teknik-teknik ini tak ada di buku resep; mereka adalah pengetahuan tanpa kata yang dipindahkan lewat sentuhan dan pengulangan.
Di sela-sela, saya membuka tautan yang pernah saya simpan—salah satunya berisi catatan etnografi yang membahas tradisi makanan Melayu di mmfatimaitalia. Membaca membantu saya menempatkan pengalaman langsung dalam konteks yang lebih luas. Ternyata, pengalaman saya bukan anomali; banyak komunitas yang menjaga cara membuat lemang sebagai bentuk identitas budaya dan religius mereka.
Hasil: lebih dari sekadar rasa—pelajaran religius dan personal
Kami menyantap lemang yang pertama kali saya bantu buat saat adzan Maghrib. Bau santan, tekstur lembut beras, dan hangatnya dari bambu mentransformasikan malam itu menjadi sakral—bukan karena label agama, tetapi karena kebersamaan. Nenek menaruh potongan rendang di piring, lalu kami berdoa singkat. Momen itu sederhana namun mendalam: makanan sebagai medium doa, terima kasih, dan kesinambungan.
Dari pengalaman itu saya membawa beberapa pembelajaran. Pertama, tradisi religius seringkali lahir dari praktik praktis masyarakat; memahami makanan tradisi berarti memahami sejarah religius secara empiris. Kedua, pengetahuan lokal hilang jika tidak diturunkan secara langsung—resep digital tidak menggantikan sentuhan tangan. Ketiga, ritual yang tampak sederhana punya kapasitas besar untuk menjembatani generasi and mempertegas identitas.
Saat saya kembali ke kota, saya membawa pulang tidak hanya resep tertulis, tetapi ingatan: cara nenek menaruh bambu di panggangan, tawa saat lemang pertama gosong, dan doa yang tak rumit namun tulus. Setiap kali saya membuat lemang sendiri sekarang, saya mengingat kalimat nenek: “Api butuh sabar.” Itu pelajaran praktis, dan juga metafora religius—kesabaran adalah bentuk ibadah yang paling berulang dan paling manusiawi.